- Founder of the Fun School Movement (FSM), Muhammad Nur Rizal menganggap penurunan antusiasme publik untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional sebagai sebuah pengingat bahwa pendidikan masih belum dianggap sebagai masalah utama dan signifikan oleh masyarakat.
Rizal mengatakan bahwa penurunan minat publik, terutama di antara para guru dan pemuda, disebabkan oleh sikap acuh tak acuh mereka terhadap perubahan-perubahan kebijakan di Kementerian Pendidikan yang belum menjangkau inti persoalannya.
Masyarakat melihat kebijakan baru hanya sebagai pergantian istilah atau program yang kelihatan acuh tak acuh tanpa tujuan jelas menuju mana. Padahal, dunia kini berkembang dengan sangat pesat serta penuh ketidakpastian,” ujar Rizal.
"Sekarang kita seolah tak punya gambaran atau rute pembelajaran yang sudah menjadi kesepakatan untuk dibentuk bersama," ungkapnya.
Rizal menyatakan hal tersebut saat menghadiri seminar GSM bersama dengan sejumlah pejabat termasuk wakil bupati, kepala dinas pendidikan serta para pemimpin sekolah dasar dan menengah pertama yang datang dari berbagai daerah OKU Timur, Sumatera Selatan pada tanggal 2 Mei 2025.
Dia menunjukkan inkonsistensi antara harapan menjadi warga negara Indonesia sepenuhnya dengan program yang diusulkan oleh kementerian pendidikan yaitu pelatihan pemrograman dan kecerdasan buatan.
"Pada saat dasar pemikiran kritis serta saintifik anak-anak kita lemah dan disertai lingkungan sekolah yang terbatas, hal ini membuat sebagian besar pelajar belum dapat mengenali perbedaan antara fakta dan opini," jelas Rizal.
Anak-anak kami belum terbiasa untuk memikirkan hubungan sebab dan akibat yang sederhana, melihat data dalam bentuk grafik atau angka, atau bahkan belum cukup menguasai pemikiran konkret dan logis, lalu secara mendadak mereka diminta untuk belajar hal tersebut. coding dan kecerdasan yang ada pada tingkat abstraksi-refleksi," jelaskannya.
"Hasilnya adalah ketakutan dalam belajar yang menghasilkan ilusi tentang kepintaran. Bukan peningkatan signifikan yang terjadi, tetapi justru regresi yang disamarkan dengan tampilan modernis," kata Rizal.
Menurut Rizal, kebijakan serta program departemen haruslah memperkuat dasar pemikiran dan budaya saintifik para pelajar yang tentunya membutuhkan tahapan dan waktu cukup lama. Namun, malah terjadi pergantian kebijakan tanpa substansi.
"Apabila kondisi ini berlanjut, perubahan struktural yang sering kali dilaksanakan oleh pemerintah tak akan merangsang kemajuan masyarakat sebab belum menjangkau keperluan mereka dalam bidang pendidikan," ujar Rizal.
Kembali kepada asal-usul dan budaya
"Apa yang kita perlukan sekarang adalah transformasi fundamental atau suaturevolusi budaya. Oleh karena itu, langkah utama dalam program pendidikankita saat ini harus mengarah pada pengembalian nilai-nilai asli dan warisankebudayaan," ungkap Rizal menyampaikan solusi dari strategi GSM tersebut.
Rizal menyatakan, "Mengembalikan diri kepada asas budaya berarti apa? Pendidikan perlu kembali membimbing daya tarik sifat semesta supaya berkembang sebagaimana mestinya dalam lingkungannya masing-masing, seperti yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara."
"Alam baka tersebut mencakup rasa ingin tahu, kreativitas, serta berbagai macam potensi. Namun, ia perlu diterapkan dalam suatu budaya yang tak mengikat para pendidik," terangnya.
"Kembali ke asal berarti menyerahkan total hak prerogatif kepada guru agar mereka dapat bereksperimen dengan metode pengajaran. Pada gilirannya, regulasi serta lingkungan kerja yang disediakan oleh negara perlu mendorong para pendidik tersebut untuk meruntuhkan paradigma pengetawanan sebelumnya atau tradisi feodalisme, sehingga mereka bisa mendapatkan kembali area bagi kemampuan mencipta dan berfikir bebas," jelas Rizal.
Dia mengatakan bahwa guru harus dikembalikan kepada asasnya sebagai insan perekam ilmu, landasan pendidik dalam membentuk karakter, serta sejarah guna memberantas mata rantai penindasan budaya yang menciptakan individu pintar tetapi jiwanya tertekan.
"Beginilah identitas asli bangsa yang menjadi fondasi dalam bersaing di arena global," ujar Rizal dengan tegas.
Oleh karena itu, GSM mengundang seluruh guru, pemuda, serta masyarakat berpartisipasi dalam upaya pembangunan kesadaran budaya dengan melakukan sejumlah aktivitas seperti: Arisan Ilmu di kalangan para Guru, Gerakan Pemuda Kembali ke Sekolah, dan NgKaji Filsafat Pendidikan guna menyusun tujuan dan rute pendidikan yang sesuai dengan aspirasi lapisan bawah.
Program Arisan Ilmu berfungsi untuk merekonstruksi lingkungan belajar yang bersifat kerja sama, mendalam, serta saling meningkatkan di antara para guru sebagai pilar transformasi.
Acara ini bertujuan untuk mengubah aliran ilmu pengetahuan dari atas (oleh ahli atau pemerintah) ke bawah menjadi lebih bersifat berbagi secara mendatar dan melibatkannya dalam proses partisipasi aktif.
Menggunakan metode ini dapat mengembangkan semangat bersama bahwa pengetahuan bisa berkembang melalui rutinitas harian para guru, serta akan menciptakan jalannya bagi guru untuk menjadi kurikulum hidup dalam sistem pendidikan yang kian berbirokrasi.
Acara ini berlangsung selama satu bulan penuh pada bulan Mei dan akan dihadiri oleh semua anggota komunitas GSM dari Sabang hingga Papua se-Indonesia.
Selagi Aksi Pemuda Turun ke Sekolah digelar dalam jangka waktu tiga hari, yaitu dari tanggal 7 hingga 9 Mei 2025, di sebelas institusi pendidikan di Kulonprogo dengan partisipasi seratus sembilan puluh mahasiswa dari beragam universitas di Yogyakarta.
Kegiatan kali ini bertujuan untuk menciptakan wadah pertemuan di antara mahasiswa, pelajar, dan guru guna mendorong pemahaman tentang tanggung jawab sosial. Selain itu, acara ini juga berusaha menghubungkan kembali idealisasi lingkungan akademik dengan realitas dunia pendidikan tingkat dasar yang kerap putus kontak tersebut.
Pemuda-pemudi ini bakal menghadirkan energi kreatif, sudut pandang terbaru serta ide-ide yang tinggi ke dalam pemberian nilai-nilai pendidikan modern. Mereka juga berperan sebagai peneguh komunikasi bagi para siswa supaya suara mereka bisa didengarkan dengan baik di tengah-tengaht metode pengajaran saat ini.
Untuk institusi pendidikan serta para pengajar, mereka menerima dorongan segar, ide-ide pembelajaran terbaru, dan bantuan emosional.
Akhir Bulan Pendidikan akan ditandai dengan penyelenggaraan NgKaji Filsafat Pendidikan di wilayah Kabupaten Kebumen, suatu kegiatan yang bakal dikunjungi oleh lebih dari 500 orang guru, kepala sekolah, serta aktivis GSM berasal dari seluruh tempat.
Dengan menggunakan NgKaji, para guru bisa meremajakan dasar-dasar pemikiran, meningkatkan kesadaran kritis serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam proses belajar-mengajar agar mereka menjadi lebih berani menantang monotonnya rutinitas pengajaran.
Semoga acara ini mampu memulihkan martabat guru sebagai intelektual bebas dan pada saat bersamaan menghapus sisa-sisa sistem pendidikan feudal kolonial yang masih bertahan.
Dengan kegiatan budaya ini, GSM dapat berfungsi sebagai Panduan Ideologi untuk dunia pendidikan di Indonesia sehingga mengetahui tujuan pengembangan pendidikannya dan menjadi sarana bagi perubahan dari lapisan bawah yang konkret," demikian penjelasan Rizal.
Social Plugin