
Perubahan Sikap Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam Pertemuan dengan Kepala Negara Korea Selatan
Jika biasanya Presiden Tiongkok Xi Jinping tampil serius dan kaku dalam berbagai pertemuan internasional, kali ini ia menunjukkan sisi yang berbeda. Dalam sebuah momen langka di tengah pertemuan puncak APEC di Gyeongju, Xi tampil dengan gaya santai dan bahkan bercanda tentang isu spionase, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya.
Dalam pertemuan tersebut, Xi memberikan dua ponsel Xiaomi kepada Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. Ia mengatakan, “Anda yang harus periksa, siapa tahu ada pintu belakang.” Kalimat ini langsung membuat semua orang tertawa, termasuk Lee sendiri. Momen ini menjadi sorotan media di Seoul karena jarang sekali Presiden Tiongkok menunjukkan humor seperti itu.
Kehadiran Xi Jinping di Korea Selatan
Ini adalah kunjungan pertama Xi Jinping ke Korea Selatan dalam lebih dari sepuluh tahun. Ia memilih untuk membuka bab baru diplomasi dengan cara yang unik, yaitu melalui humor. Saat itu, kedua pemimpin tampak seperti dua sahabat lama yang saling bertukar hadiah, bukan dua kepala negara yang biasanya berbicara dengan nada kaku.
Menurut juru bicara Lee, Kim Nam-jun, hubungan antara keduanya terasa semakin cair. Bahkan, mungkin cukup cair untuk membuat Xi berani melontarkan lelucon. Dari upacara penyambutan hingga jamuan makan dan pertunjukan budaya, keduanya memiliki banyak waktu untuk membangun kedekatan pribadi. Mereka juga sempat menguji selera humor masing-masing.
Hubungan Bilateral Tiongkok-Korea Selatan
Hubungan bilateral antara Tiongkok dan Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan dinamika yang kompleks. Di satu sisi, keduanya memiliki kerja sama ekonomi yang mendalam, tetapi di sisi lain, ada ketegangan politik-keamanan yang signifikan.
Sejak normalisasi hubungan diplomatik pada tahun 1992, kedua negara telah membangun kemitraan yang kuat, terutama di bidang ekonomi. Tiongkok tetap menjadi mitra dagang terbesar Korea Selatan selama lebih dari dua dekade, dengan volume perdagangan bilateral mencapai angka ratusan miliar dolar setiap tahun.
Namun, lanskap geopolitik regional dan global telah menghadirkan tantangan besar yang menguji fondasi hubungan tersebut. Isu Sistem Pertahanan Rudal Area Ketinggian Tinggi Terminal (THAAD) menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketegangan. Keputusan Korea Selatan untuk mengizinkan penempatan THAAD oleh Amerika Serikat pada tahun 2017 memicu reaksi keras dari Tiongkok, yang menganggap radar sistem tersebut mengancam keamanan strategisnya.
Meskipun insiden tersebut terjadi beberapa tahun lalu, dampaknya masih terasa hingga saat ini. Ada penurunan tajam dalam pertukaran budaya dan pariwisata. Di bawah pemerintahan Presiden Moon Jae-in (2017-2022), upaya dilakukan untuk memulihkan hubungan yang membeku pasca-THAAD. Ada peningkatan dalam komunikasi diplomatik dan pertukaran pesan positif.
Perubahan Kebijakan Luar Negeri Korea Selatan
Perubahan signifikan terjadi dengan naiknya Presiden Yoon Suk-yeol ke tampuk kekuasaan pada tahun 2022. Ia menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih berpihak pada aliansi tradisional dengan Amerika Serikat. Orientasi kebijakan luar negeri Korea Selatan yang lebih condong ke AS menimbulkan kekhawatiran di Beijing, yang memandang langkah tersebut sebagai bagian dari upaya AS untuk membendung pengaruh Tiongkok di kawasan.
Di ranah keamanan maritim, insiden gesekan di laut juga meningkat. Penjaga Pantai Tiongkok dilaporkan melakukan operasi "zona abu-abu" dengan membayangi kapal-kapal penelitian dan pemerintah Korea Selatan di Zona Penyangga Perdamaian (PMZ) di Laut Kuning. Insiden-insiden ini menambah lapisan ketidakpercayaan di sektor keamanan maritim dan menunjukkan adanya persaingan pengaruh yang nyata di perairan regional.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, hubungan Tiongkok-Korea Selatan beberapa tahun terakhir berada dalam kondisi yang pragmatis namun rapuh. Kedua negara menyadari bahwa mereka adalah mitra dagang yang sangat penting dan tak terpisahkan, sehingga kerja sama ekonomi terus diupayakan untuk stabilitas bersama. Namun, perbedaan mendasar dalam aliansi keamanan (aliansi Korsel-AS vs. kepentingan strategis Tiongkok) dan isu-isu geopolitik seperti denuklirisasi Korea Utara dan keamanan maritim terus menjadi batu sandungan yang memerlukan manajemen yang hati-hati dari kedua belah pihak.
Social Plugin