Pertumbuhan Ekonomi 5,04 Persen Dinilai Kurang, Ekonom Soroti Kekurangan Pasokan


JAKARTA — Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip, menilai bahwa strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini perlu lebih fokus pada penguatan sisi suplai. Menurutnya, capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal III 2025 sudah tergolong optimal, tetapi masih belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi.

"Kalau kita ingin membicarakan bagaimana meningkatkan pertumbuhan, maka kata kuncinya adalah perbaikan di sisi supply sektor," ujar Sunarsip dalam diskusi di Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Menurut dia, selama hambatan di sisi suplai seperti keterbatasan pembiayaan, kapasitas industri, dan rendahnya minat investasi belum terselesaikan, maka pertumbuhan konsumsi rumah tangga akan sulit melewati level 5 persen. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam beberapa kuartal terakhir terus melemah, dengan laju 4,89 persen (yoy) pada kuartal III 2025.

Kondisi tersebut disebabkan oleh belum pulihnya industri pasca-pandemi COVID-19, terutama di Pulau Jawa yang menjadi wilayah pusat kegiatan ekonomi sekaligus penyumbang terbesar tenaga kerja nasional.

"Jika bottleneck di sisi suplai bisa diselesaikan, tanpa insentif fiskal pun pertumbuhan bisa menembus di atas 5 persen," ujarnya.

Dari sisi ekspor, pertumbuhan sebesar 9,91 persen (yoy) pada kuartal III 2025 memang menjadi salah satu penopang ekonomi. Namun, sebagian besar kinerja ekspor tersebut berasal dari sektor hilirisasi yang padat modal dan berlokasi di luar pusat konsumsi utama. Akibatnya, efek berganda terhadap peningkatan daya beli masyarakat di wilayah padat penduduk masih terbatas.

Lebih lanjut, Sunarsip menilai bahwa perluasan hilirisasi ke sektor pertanian dan industri manufaktur di berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatra, dan Kalimantan dapat menjadi momentum untuk memperkuat basis industri domestik sekaligus mendorong ekspor berkelanjutan.

"Jika industri yang belum pulih bisa kembali hidup, ekspor akan tumbuh lebih tinggi dan pasar domestik ikut menguat. Konsumsi rumah tangga pun otomatis terdorong," katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi 53,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), tumbuh 4,89 persen (yoy). Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat tumbuh 5,04 persen.

Dengan komposisi pertumbuhan tersebut, Sunarsip menilai pemerintah perlu menyeimbangkan strategi antara penguatan permintaan dan perbaikan sisi suplai agar perekonomian tidak hanya tumbuh stabil, tetapi juga berkelanjutan.