Warga Bojong Menteng Bekasi Minta Limbah MBG Ditutup, Ketua RW: Jika Tidak, Kami Akan Beri Peringatan

Penutupan Kubangan Limbah MBG di Bojong Menteng

Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan RT 05/04 Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, berjanji akan segera menutup kubangan yang digunakan sebagai tempat pembuangan limbah makan bergizi gratis (MBG). Janji ini dilakukan setelah warga mengeluhkan bau tidak sedap yang berasal dari kubangan tersebut. Selain itu, warga juga khawatir air sumur mereka tercemar oleh limbah MBG.

Ketua RW 04 Kelurahan Bojong Menteng, Hasan Kanung, menjelaskan bahwa penutupan kubangan yang menimbulkan bau tak sedap diduga dari limbah MBG akan dilakukan segera. Namun, ia belum dapat memastikan kapan pihak SPPG akan menutup kubangan tersebut. Untuk itu, pihaknya akan melakukan pengecekan ke lokasi guna memastikan apakah kubangan sudah ditutup atau belum.

"Jika belum ada tindakan, kami akan melakukan teguran," ujarnya. Hasan juga menyatakan bahwa terkait dugaan pencemaran air yang berasal dari limbah olahan Makan Bergizi Gratis (MBG), pihaknya masih menunggu jawaban dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi.

Beberapa dinas terkait sebelumnya sudah terjun langsung untuk mengecek air yang mengalir, diduga tercemar hingga air menjadi hitam dan menyebabkan gatal-gatal. Sampel telah diambil, tetapi hasilnya belum diketahui.

Masalah yang Terus Berlanjut

Polemik aroma tak sedap yang diduga berasal dari kubangan kawasan SPPG di kawasan RT 05 RW 04 Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, terus berlanjut. Hasan Kanung mengatakan bahwa polemik tersebut sudah dikomunikasikan dengan pihak SPPG, warga yang mengaku terdampak limbah MBG, dan pengelola lahan.

Komunikasi mencari solusi dari dampak limbah MBG tersebut sebelumnya sudah dilakukan pada Jumat (31/10/2025) dan sudah menemukan solusi. Warga meminta kolam (kubangan) harus ditutup, dan dari SPPG pun sudah siap menutup kubangan atau kolam itu agar tidak lagi bau, ditutup dengan diuruk.

Warga Geram dengan Keberadaan SPPG

Sejumlah warga di kawasan RT 05 RW 04 Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, mengeluhkan keberadaan SPPG dalam membuang sisa olahan atau limbah MBG. Seorang warga, Subur (35), mengatakan bahwa dirinya pernah melihat adanya aktivitas pembuangan diduga limbah MBG di SPPG tersebut ke aliran selokan kawasan rumah warga.

Ia mengaku melihat proses pembuangan limbah MBG oleh SPPG itu usai mencium aroma tidak sedap dan mencari sumbernya. "Saya iseng-iseng aja cari sumber bau, ternyata lagi disedot, dibuang ke sini (selokan warga--red). Saya videoin, saya kirim ke RT. Pak RT langsung merespon, langsung ke sini," kata Subur, Jumat (31/10/2025).

Warga lainnya, Zaenab (44), yang setiap hari memanfaatkan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari mengaku khawatir. Meski hingga saat ini, ia mengaku belum terdampak terkait dugaan pencemaran limbah tersebut, namun Zaenab khawatir air sumurnya sudah tercemar. Zaenab dan Subur pun berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi maupun pihak Badan Gizi Nasional (BGN) dapat mencari solusi agar mengatur pembuangan limbah MBG.

"Takutnya tercemar, tapi sekarang belum kena. Mudah-mudahan jangan, khawatirnya itu doang," jelas Zaenab.

Upaya Dinas Lingkungan Hidup

Kekhawatiran Zaenab bertambah usai dirinya menuturkan ada dua warga yang diduga sudah terdampak pencemaran tersebut. Diduga warga yang terdampak itu sempat mengalami gatal karena air sumur berubah warna menjadi keruh akibat pencemaran limbah.

"Ada dua orang yang udah kedampak, gatal-gatal badannya," tuturnya.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi pun menanggapi pengaduan warga terkait dugaan pencemaran lingkungan di kawasan Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu itu. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengatakan, dalam pengaduan yang disampaikan di media online itu, warga mengeluhkan dugaan pencemaran lingkungan dimana saluran drainase mengeluarkan bau tak sedap hingga berdampak terhadap air sumur.

Tak ayal, dampak dari pencemaran lingkungan itu beberapa warga mengalami gatal-gatal pada kulit diduga akibat air limbah kegiatan dapur yang mengolah makan bergizi gratis (MBG).

"Ketika diverifikasi di lapangan diketahui bahwa air limbah domestik yang bersumber dari cucian peralatan masak dan makan ditampung ke dalam biotank yang sudah kedap air, selanjutnya air limbah yang sudah ditampung dilakukan penyedotan dengan menggunakan jasa penyedotan air limbah," kata Kiswatiningsih, Jumat (31/10/2025).

Langkah Tindak Lanjut DLH Kota Bekasi

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menjelaskan sebagai tindak lanjut pihaknya bersama UPTD Laboratorium Lingkungan Hidup (LAB LH) mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel di sejumlah titik. Titik itu meliputi saluran pembuangan air limbah yang bersumber dari cucian peralatan masak dan makan serta sumber air baku yang berasal dari air tanah (jet pump).

Upaya itu dilakukan sebagai bentuk nyata pihak DLH Kota Bekasi secara transparan dan akuntabel serta mengedepankan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kualitas lingkungan di Kota Bekasi. "Langkah ini dilakukan untuk mengetahui sumber pencemaran dan menilai tingkat kualitas air guna menentukan langkah penanganan lebih lanjut," jelasnya.