/GettyImages-1004877052-58ce1095ed954946a94477fb25766c0f.jpg)
Kebun Binatang Bandung sebagai Contoh Kerja Sama Pemerintah dan Swasta
Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) kini menjadi salah satu contoh nyata kerja sama strategis antara pemerintah dan sektor swasta dalam mengelola lembaga konservasi secara mandiri. Dengan pendekatan ini, pengelolaan kebun binatang tidak lagi membebani anggaran publik.
John Sumampauw, Ketua Pengurus Yayasan Margasatwa Tamansari, menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah penting untuk menciptakan pengelolaan konservasi yang berkelanjutan. “Pemerintah tetap memegang aset dan fungsi pengawasan, sementara kami sebagai pengelola menanggung seluruh biaya investasi, operasional, dan pengembangan fasilitas,” ujarnya.
Menurut John, kerja sama ini bukan hanya tentang efisiensi, melainkan strategi pembiayaan kreatif yang membuat lembaga konservasi tetap hidup dan berkembang. “Kebun binatang bukan hanya tempat rekreasi, tapi juga pusat pengembangbiakan, penyelamatan satwa liar, serta penjaga keberagaman genetik,” tambahnya.
Fungsi dan Tantangan Kebun Binatang
Kebun binatang memiliki banyak fungsi, mulai dari pendidikan dan penelitian hingga penitipan sementara hewan dan penyediaan ruang rekreasi sehat bagi masyarakat. Namun, semua itu datang dengan konsekuensi biaya yang tinggi. “Mulai dari pakan, perawatan, kesehatan satwa, hingga gaji tenaga kerja — semua memerlukan pendanaan besar. Tapi itu bagian dari tanggung jawab konservasi,” katanya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Bandung Zoo menerapkan sistem pembiayaan kreatif. Pendapatan dari tiket, program edukasi berbayar, hingga kemitraan dengan pihak swasta digunakan kembali untuk kesejahteraan satwa, pengembangan fasilitas, serta kegiatan edukatif bagi pengunjung.
Manfaat bagi Masyarakat dan Pemerintah
Selain memberi manfaat bagi masyarakat, sistem ini juga menguntungkan pemerintah daerah. Bandung Zoo tidak bergantung pada APBD, tetapi rutin memberikan kontribusi ke PAD lewat retribusi, pajak, dan kerja sama pemanfaatan aset.
Sejak 2017, Yayasan Margasatwa Tamansari telah menyusun rencana revitalisasi besar yang terbagi ke dalam lima fase, masing-masing berlangsung empat hingga lima tahun. Pada fase pertama (2017–2022), Bandung Zoo berhasil membangun klinik satwa, merekrut dokter hewan, memperluas kandang terbuka, menghadirkan zona Afrika dan kubah burung, serta memperbarui fasilitas publik seperti restoran dan area rekreasi yang lebih bersih.
“Fase pertama menelan biaya sekitar Rp300–400 miliar. Jika seluruh lima fase selesai, total investasinya bisa mencapai Rp700–800 miliar,” jelas John.
Proses Pengelolaan yang Profesional
Ia menambahkan, seluruh proses pengelolaan dilakukan secara profesional dan diaudit secara berkala. Harapan besar dipegang agar Bandung Zoo dapat menjadi model inspiratif kolaborasi antara pemerintah dan swasta dalam menjaga keberlangsungan satwa dan lingkungan.
Social Plugin